Mengenal Penyebab Kencing Manis dan Pengobatannya

Kencing manis ataupun diabet dan diketahui pula sebagai penyakit gula adalah kelainan metabolisme tubuh dalam memecah karbohidrat, dicirikan dengan kenaikan gula darah akibat minimnya kandungan insulin, minimnya kerja insulin di dalam tubuh, ataupun keduanya.

Kenaikan kandungan gula darah yang tidak terkontrol dan terjadi secara terus menerus bisa berakibat kurang baik terhadap organ tubuh yang lain seperti otak, mata, jantung, ginjal, pembuluh darah dan system saraf. Komplikasi bisa mengurangi mutu hidup diabetisi, terlebih lagi bisa menimbulkan kematian, sehingga butuh pengelolaan yang baik supaya bisa menghindari berlangsungnya komplikasi dan memelihara mutu hidup diabetisi.

Diabetesi biasanya memiliki rasa lapar berlebihan sehingga condong makan banyak. Mengkonsumsi makanan berlebihan, khususnya karbohidrat dalam satu kali makan akan memicu kenaikan kadar gula darah. Diabet dapat mengonsumsi makanan seperti orang biasa, namun mesti bisa mengontrol pola makan dalam hal jumlah, jenis dan jadwal makanan yang dimakan.

Pola makan diabet diketahui dengan istilah 3 J (Jadwal, Jumlah dan Jenis). Jumlah makanan ialah dengan mengatur kalori keseluruhan dan kalori per kali makan. Jenis makanan butuh campuran dengan komponen tinggi serat dan indeks glikemik yang rendah. Jadwal makan diabet biasanya 3 kali makan dan 3 kali selingan. Konsultasikan dengan dokter tentang pola makan 3 J yang sesuai untuk kebutuhan diabetisi, karena pola makan dipengaruhi pula dengan kebiasaan dan keadaan penyakit yang dimiliki.

Kencing manis adalah penyakit kronis yang tidak bisa dipulihkan namun bisa dikontrol untuk menghindari berlangsungnya komplikasi. Pengendalian kencing manis tidak dapat hanya mengandalkan satu komponen saja, semisal pengobatan dengan obat kencing manis saja.

Kegiatan fisik rutin mempunyai sifat aerobic pada diabet teruji bisa memperbaiki sensitivas insulin sehingga bisa mengontrol kandungan gula dalam darah. Jalan kaki, bersepeda santai, jogging, dan berenang adalah latihan yang mempunyai sifat aerobik. Frekuensi latihan dilakukan minimun 3-4 kali per minggu, masing-masing 30 menit. Konsultasikan dengan dokter tentang kebutuhan kegiatan yang sesuai dengan keadaan diabetisi. Pasalnya kebutuhan kegiatan dan jenis olah raga setiap orang akan berbeda dan disesuaikan dengan keadaan penyakit yang dimiliki.