Wajib Haji

Wajib Haji

Rangkaian kegiatan yang harus dijalankan di dalam ibadah haji sebagai pelengkap Rukun Haji, yang jika tidak dijalankan harus membayar dam (denda).

Yang terhitung harus haji adalah ;

Niat Ihram, untuk haji atau umrah berasal dari Miqat Makani, dijalankan setelah berpakaian ihram
Mabit (bermalam) di Muzdalifah terhadap tanggal 9 Zulhijah (dalam perjalanan berasal dari Arafah ke Mina)
Melontar Jumrah Aqabah tanggal 10 Zulhijah
Mabit di Mina terhadap hari Tasyrik (tanggal 11, 12 dan 13 Zulhijah).
Melontar Jumrah Ula, Wustha dan Aqabah terhadap hari Tasyrik (tanggal 11, 12 dan 13 Zulhijah).
Tawaf Wada’, Yaitu lakukan tawaf perpisahan sebelum meninggalkan kota Mekah.
Meninggalkan perbuatan yang dilarang sementara ihram.

Sunah Haji

a. Sunah-Sunnah Ihram:
1. Mandi saat ihram
Berdasarkan hadits Zaid bin Tsabit bahwasanya beliau memandang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengganti pakaiannya untuk ihram lantas mandi.

2. Memakai minyak wangi di badan sebelum ihram
Berdasarkan hadits ‘Aisyah ia berkata, “Aku dulu memberi wewangian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk ihramnya sebelum berihram dan untuk tahallulnya sebelum lakukan thawaf di Ka’bah.”

3. Berihram dengan kain ihram (baik yang atas maupun yang bawah) yang berwarna putih
Berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat berasal dari Madinah setelah beliau menyisir rambut dan memakai minyak, lantas beliau dan para Sahabat memakai rida’ dan izar (kain ihram yang atas dan yang bawah).

Adapun disunnahkannya yang berwarna putih berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اِلْبَسُوْا مِنْ ثِيَابِكُمُ الْبَيَاضِّ فَإِنَّهَا مِنْ خَيْرِ ثِيَابِكُمْ وَكَفِّنُوْا فِيْهَا مَوْتَاكُمْ.

“Pakailah pakaianmu yang putih, sebenarnya busana yang putih adalah pakaianmu yang terbaik dan kafankanlah orang-orang yang wafat di pada kalian dengannya.”

4. Shalat di lembah ‘Aqiq bagi orang yang melewatinya
Berdasarkan hadits ‘Umar, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di lembah ‘Aqiq:

أَتَانِي اللَّيْلَةَ آتٍ مِنْ رَبِّي فَقَالَ: صَلِّ فِي هَذَا الْوَادِي الْمُبَارَكِ، وَقُلْ: عُمْرَةٌ فِي حَجَّةٍ

“Tadi malam, telah mampir kepadaku utusan Rabb-ku dan berkata, ‘Shalatlah di lembah yang diberkahi ini dan katakan (niatkan) umrah di dalam haji.’”

5. Mengangkat suara saat membaca talbiyah
Berdasarkan hadits as-Saib bin Khalladi, ia berbicara bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَتَانِي جِبْرِيْلُ فَأَمَرَنِي أَنْ آمُرَ أَصْحَابِي أَنْ يَرْفَعُوْا أَصْوَاتَهُمْ بِاْلإِهْلاَلِ أَوِ التَّلْبِيَةِ.

“Telah mampir kepadaku Jibril dan memerintahkan kepadaku agar aku memerintahkan para Sahabatku agar mereka mengeraskan suara mereka saat membaca talbiyah.”

Oleh dikarenakan itu, dulu para Sahabat Rasulullah berteriak. Ibnu Hazm rahimahullah berkata, “Dulu saat Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berihram suara mereka telah parau sebelum menggapai Rauha.”

6.Bertahmid, bertasbih dan bertakbir sebelum menjadi ihram
Berdasarkan hadits Anas, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat Zhuhur empat raka’at di Madinah tetapi kami dengan beliau, dan beliau shalat ‘Ashar di Dzul Hulaifah dua raka’at, beliau menginap di sana sampai pagi, lantas menaiki kendaraan sampai sampai di Baidha, kemudian beliau memuji Allah bertasbih dan bertakbir, lantas beliau berihram untuk haji dan umrah.”

7. Berihram menghadap Kiblat
Berdasarkan hadits Nafi’, ia berkata, “Dahulu saat Ibnu ‘Umar selesai lakukan shalat Shubuh di Dzul Hulaifah, ia memerintahkan agar rombongan menjadi berjalan. Maka rombongan pun berjalan, lantas ia naik ke kendaraan. Ketika rombongan telah serupa rata, ia berdiri menghadap Kiblat dan bertalbiyah… Ia mengi-ra dengan tentu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan perihal ini.”

b. Sunnah-Sunnah Ketika Masuk Kota Makkah:
8, 9, 10. Menginap di Dzu Thuwa, mandi untuk memasuki kota Makkah dan masuk kota Makkah terhadap siang hari
Dari Nafi’, ia berkata, “Dahulu saat Ibnu ‘Umar telah dekat dengan kota Makkah, ia menghentikan talbiyah, kemudian beliau menginap di Dzu Thuwa, shalat Subuh di sana dan mandi. Beliau menyatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan perihal ini.”

11. Memasuki kota Makkah berasal dari ats-Tsaniyah al-‘Ulya (jalan atas)
Berdasarkan hadits Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Dulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki kota Makkah berasal dari ats-Tsaniyah al-‘ulya (jalan atas) dan terlihat berasal dari ats-Tsaniyah as-Sufla (jalan bawah).”

12. Mendahulukan kaki kanan saat masuk ke di dalam masjid haram dan membaca:

أَعُوْذُ بِاللهِ الْعَظِيْمِ وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَسَلِّمْ، اَللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ.

“Aku berlindung kepada Allah Yang Mahaagung, dengan wajah-Nya Yang Mahamulia dan kekuasaan-Nya yang abadi, berasal dari syaitan yang terkutuk. Dengan Nama Allah dan semoga shalawat dan salam selamanya tercurahkan kepada Muhammad, Ya Allah, bukalah pintu-pintu rahmat-Mu untukku.”

13. Mengangkat tangan saat memandang Ka’bah
Apabila ia memandang Ka’bah, mengangkat tangan jika mau, dikarenakan perihal ini benar shahih berasal dari Ibnu ‘Abbas. Kemudian berdo’a dengan do’a yang gampang dan seumpama ia rela berdoa dengan do’anya Umar terhitung baik, dikarenakan do’a ini pun shahih berasal dari ‘Umar. Do’a beliau:

اَللّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلاَمِ.

“Ya Allah, Engkau pemberi keselamatan dan dari-Mu keselamatan, serta hidupkanlah kami, wahai Rabb kami dengan keselamatan.”

Sunah-Sunnah Thawaf
14. Al-Idhthiba’
Yaitu memasukkan tengah-tengah kain ihram di bawah ketiak kanan dan menyelempangkan ujungnya di pundak kiri agar pundak kanan terbuka, berdasarkan hadits Ya’la bin Umayyah bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam thawaf dengan idhthiba’.”

15. Mengusap Hajar Aswad
Berdasarkan hadits Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Aku memandang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat tiba di Makkah mengusap Hajar Aswad di awal thawaf, beliau thawaf sambil berlari-lari kecil di tiga putaran pertama berasal dari tujuh putaran thawaf.”

16. Mencium Hajar Aswad
Berdasarkan hadits Zaid bin Aslam berasal dari ayahnya, ia berkata, “Aku memandang ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu mencium Hajar As-wad dan berkata, “Seandainya aku tidak memandang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu.”

17. Sujud di atas Hajar Aswad
Berdasarkan hadits Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Aku memandang ‘Umar bin al-Khaththab mencium Hajar Aswad lantas sujud di atasnya kemudian ia lagi menciumnya dan sujud di atasnya, kemudian ia berkata, ‘Beginilah aku memandang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’”

18. Bertakbir tiap-tiap lewat Hajar Aswad
Berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam thawaf melingkari Ka’bah di atas untanya, tiap-tiap beliau lewat Hajar Aswad beliau memberi tanda dengan sesuatu yang ada terhadap beliau kemudian bertakbir.”

19. Berlari-lari kecil terhadap tiga putaran pertama thawaf yang pertama kali (thawaf qudum)
Berdasarkan hadits Ibnu ‘Umar, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat thawaf melingkari Ka’bah, thawaf yang pertama kali, beliau berlari-lari kecil tiga putaran dan terjadi empat putaran, di mulai berasal dari Hajar Aswad dan berakhir lagi di Hajar Aswad.”

20. Mengusap rukun Yamani
Berdasarkan hadits Ibnu Umar, ia berkata, “Aku tidak dulu memandang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap Ka’bah jika dua rukun Yamani (rukun Yamani dan Hajar Aswad).”

21. Berdo’a di pada dua rukun (rukun Yamani dan Hajar Aswad) dengan do’a sebagai berikut:

رَبَّنَآ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

“Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami berasal dari siksa Neraka.”

22. Shalat dua raka’at di belakang maqam Ibrahim setelah thawaf
Berdasarkan hadits Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Setelah tiba, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam thawaf melingkari Ka’bah tujuh kali, kemudian beliau shalat dua rakaat di belakang maqam Ibrahim dan sa’i pada Shafa dan Marwah.” Selanjutnya beliau berkata:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُوْلِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ.

“Sesungguhnya terhadap diri Rasulullah itu terkandung perumpamaan yang baik bagimu.”

23. Sebelum shalat di belakang Maqam Ibrahim membaca:

وَاتَّخِذُوْا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّىٰ.

“Dan jadikanlah {beberapa|sebagian|lebih berasal dari satu} maqam Ibrahim itu daerah shalat.”

Kemudian membaca di dalam shalat dua raka’at itu surat al-Ikhlash dan surat al-Kaafirun, berdasarkan hadits Jabir bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat beliau sampai di maqam Ibrahim Alaihissallam beliau membaca:

وَاتَّخِذُوْا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيْمَ مُصَلًّىٰ.

“Dan jadikanlah {beberapa|sebagian|lebih berasal dari satu} maqam Ibrahim itu daerah shalat.”

Lalu beliau shalat dua raka’at, beliau membaca di dalam shalat dua raka’at itu قُلْ هُوَ اللّهُ أَحَدٌ danقُلْ يا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ.

24. Iltizam daerah di pada Hajar Aswad dan pintu Ka’bah dengan cara menempelkan dada, muka dan lengannya terhadap Ka’bah
Berdasarkan hadits ‘Amr bin Syu’aib berasal dari ayahnya berasal dari kakeknya, ia berkata, “Aku dulu thawaf dengan ‘Abdullah bin ‘Amr, saat kami telah selesai berasal dari tujuh putaran berikut kami shalat di belakang Ka’bah. Lalu aku bertanya, ‘Apakah engkau tidak memohon bantuan kepada Allah?’ Ia menjawab, ‘Aku berlindung kepada Allah berasal dari api Neraka.’”

Berkata (perawi), “Setelah itu ia pergi dan mengusap Hajar Aswad. Lalu beliau berdiri di pada Hajar Aswad dan pintu Ka’bah, beliau menempelkan dada, tangannya dan pipinya ke dinding Ka’bah, kemudian berkata, ‘Aku memandang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan perihal ini.’”

25. Minum air zamzam dan mencuci kepala dengannya
Berdasarkan hadits Jabir bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan perihal tersebut.

d. Sunnah-Sunnah Sa’i:
26. Mengusap Hajar Aswad (seperti yang telah lalu)
27. Membaca:

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِن شَعَائِرِ اللَّهِ ۖ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَن يَطَّوَّفَ بِهِمَا ۚ وَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ

“Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah {beberapa|sebagian|lebih berasal dari satu} berasal dari syi’ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullaah atau ber’umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i di pada keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu ke-bajikan dengan kerelaan hati, maka sebenarnya Allah Mahamen syukuri kebaikan lagi Mahamengetahui.” [Al-Baqarah: 158]

Kemudian membaca:

نَبْدَأُ بِمَا بَدَأَ اللهُ بِهِ.

“Kami menjadi dengan apa yang di mulai oleh Allah.”

Bacaan ini dibaca setelah dekat dengan Shafa saat rela lakukan sa’i.[23]

28. Berdo’a di Shafa
Ketika berada di Shafa, menghadap Kiblat dan membaca:

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، أَنْجَزَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ.

“Tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah Yang Mahaesa, tak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan, bagi-Nya segala puji dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata. Yang lakukan janji-Nya, membela hamba-Nya (Muhammad) dan mengalahkan golongan musuh sendirian.”

29. Berlari-lari kecil dengan nyata-nyata pada dua tanda hijau
30. Ketika berada di Marwah mengerjakan layaknya apa yang dijalankan di Shafa, baik menghadap Kiblat, bertakbir maupun berdo’a

e. Sunnah-Sunnah Ketika Keluar berasal dari Mina:
31. Ihram untuk haji terhadap hari Tarwiyah berasal dari daerah tinggal masing-masing
32. Shalat Zhuhur, ‘Ashar, Maghrib, dan ‘Isya’ di Mina terhadap hari Tarwiyah, serta menginap di sana sampai shalat Shubuh dan matahari telah terbit
33. Pada hari ‘Arafah, menjamak shalat Zhuhur dan ‘Ashar di Namirah
34. Tidak meninggalkan ‘Arafah sebelum matahari tenggelam.

Artikel Terkait
Badal Haji & Travel Haji Umrah